Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia sangat mengandalkan sumberdaya alam, khususnya di Negara-negara berkembang seperti Indonesia. Eksploitas sumberdaya alam secara besar-besaran diklaim menjadi salah satu penyebab atau pemicu perubahan lingkungan global. Bencana banjir dan kekeringan mungkin menjadi contoh mudah bahwa siklus lingkungan tidak lagi seimbang.

Di Indonesia, bencana banjir hampir selalu terjadi setiap tahunnya. Bahkan di ibukota Jakarta, banjir telah menjadi tamu tetap pada saat musim penghujan tiba. Keadaan ini menunjukkan bahwa kita masih belum bisa mengatasinya. Belum lagi permasalahan lingkungan lainnya seperti pencemaran air dan udara.

Bencana pencemaran air yang sering menjadi literatur adalah kasus Minamata. Dari kasus tersebut kita dapat menilai betapa berbahayanya bahan-bahan yang telah digunakan oleh manusia, tidak hanya bagi lingkungan, tapi juga bagi manusia itu sendiri. Di Indonesia, kasus pencemaran logam berat pada perairan di Surabaya telah terdeteksi pada ASI (Air Susu Ibu) kaum ibu yang tinggal di daerah terpapar. Hal ini dikhawatirkan dapat berpengaruh negatif terhadap anak-anak mereka, generasi bangsa.

Demikian juga dengan pencemaran lingkungan udara. Banyaknya industri yang membuang limbahnya ke udara telah meningkatkan kadar CO2 di udara. Keberadaan carbon inilah yang disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Untuk kasus yang satu ini, negara-negara di Eropa sangat konsen mengatasinya. Mereka sangat peduli dengan perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini. Di Jerman, tahun 2008 mengalami suhu dingin yang sangat ekstrim hingga mencapai -29 derajat celcius di beberapa daerah.

Menyikapi gejala-gejala ekstrim yang muncul di dunia saat ini, bangsa-bangsa di seluruh dunia berlomba-lomba dengan berbagai cara untuk menekan dampak yang lebih parah akibat perubahan lingkungan. Di Amerika pernah diterapkan kebijakan mengecat semua gedung dengan warna putih agar radiasi panas matahari lebih banyak dipantulkan. Di negara-negara Eropa telah menggunakan energi alternatif dari air, angin dan daur ulang sampah. Mereka juga berlomba menciptakan teknologi yang rendah emisi carbon hingga penerapan carbon trading dan lain-lain. Slogan-slogan “save your energy, save the world” tersebar untuk selalu mengingatkan kita tentang krisis yang tengah kita hadapi. Semua dilakukan untuk keselamatan manusia, meskipun semua itu manusia juga yang menyebabkan. Bagaimanapun, itu tetap menjadi tanggung jawab kita bersama. Lalu, bagaimana dengan kita…..? Apa yang sudah kita lakukan untuk dunia….? (har)